Komoditas Kakao Ataupun Coklat Menjadi Komoditas Menjanjikan

Waktu pertama kali aku nyemplung ke dunia agribisnis, jujur aja aku kira sawit dan kopi itu raja. Tapi makin ke sini, aku makin sadar kalau kakao alias bahan bakunya coklat sebenarnya punya potensi yang luar biasa banget. Bahkan, kalau dikelola serius, komoditas ini bisa jadi “emas coklat” buat Indonesia.

Aku masih inget banget waktu diajak temen ke Sulawesi Tengah, ke salah satu desa yang dikenal sebagai sentra kakao. Di sana aku ngelihat langsung proses fermentasi biji kakao. Bau asem-asem khas kakao itu semerbak banget, dan buat pecinta coklat sepertiku, itu kayak surga kecil.

Tapi ya… ternyata nggak semanis coklat Swiss juga kenyataannya. Para petani di sana banyak yang ngeluh soal hama dan perubahan iklim yang bikin hasil panen mereka naik-turun. Belum lagi soal harga jual yang sering ditentukan tengkulak. Mereka kadang nggak ngerti soal standar biji kakao fermentasi premium yang bisa dihargai jauh lebih tinggi di pasar ekspor. Frustasi banget dengernya.

Coklat itu bukan cuma makanan manis

Industri olahan coklat lagi naik daun banget sekarang. Dari dark chocolate, truffle, sampai produk vegan-friendly, permintaan global terus meningkat. Bahkan menurut International Cocoa Organization, permintaan coklat dunia tumbuh rata-rata 2-3% per tahun, sementara pasokannya malah cenderung stagnan. Artinya? Kakao itu hot commodity, cuy.

Temenku, Dimas, buktiin sendiri. Dia mantan anak agency di Jakarta yang capek sama kerjaan kota dan balik kampung ke Polewali Mandar. Dia mulai tanam kakao organik di lahan warisan keluarganya. Awalnya iseng, tapi sekarang dia udah punya workshop kecil buat bikin coklat bean-to-bar. Bahkan brand lokalnya udah masuk ke beberapa hotel di Bali! Yang aku salut, dia fokus banget ke kualitas fermentasi dan roasting. Hasilnya? Coklatnya punya profil rasa yang beda—lebih fruity, kadang ada rasa cherry dan citrus.

Belajar soal fermentasi kakao yang benar

Ini kunci harga tinggi. Fermentasi yang tepat bisa ningkatin cita rasa dan kualitas biji. Banyak LSM dan program pemerintah yang dukung petani kakao lokal untuk lebih efisien dan ramah lingkungan.

Kalau kamu suka bikin sesuatu, bisa mulai dari olahan sederhana kayak coklat batangan, praline, atau bubuk coklat organik. Misalnya, bikin produk coklat bareng pengusaha kue, atau bikin hampers buat event dan gift corporate.

Dan satu hal lagi, jangan takut eksperimen. Aku sendiri pernah coba bikin selai coklat dari biji kakao mentah yang kupanggang sendiri. Awalnya gagal total kebanyakan gula dan pahitnya masih nyisa. Tapi percobaan kedua lebih berhasil. Rasanya unik dan teksturnya creamy banget. Dari situ aku belajar: kakao itu fleksibel, bisa jadi apa aja asal sabar dan ngerti prosesnya.

Leave a Comment