
Yang punya ribuan hektar, alat berat, dan pabrik pengolahan sendiri. Tapi waktu aku pulang kampung ke Kalimantan Barat dan ngobrol sama salah satu paman jauh yang dulunya petani karet aku baru ngeh, ternyata petani kecil pun sekarang banyak yang alih profesi jadi petani sawit.
Katanya sih, Nggak tahan lagi sama harga karet yang nggak pernah stabil. Panen capek, hasil tipis. Mending nanam sawit, memang butuh modal awal gede, tapi begitu panen… lumayan buat anak sekolah.
Sawit itu kan kontroversial banget, ya. Isu deforestasi, konflik lahan, sampai tekanan internasional soal kelestarian lingkungan. Tapi setelah ngobrol lebih panjang, aku mulai paham sudut pandang petani. Buat mereka, sawit bukan sekadar komoditas tapi jalan keluar dari kemiskinan.
Kisah pamanku ini bukan satu-satunya. Di desa tetangga juga mulai ramai petani yang buka lahan buat sawit. Ada yang nebang semak belukar, ada juga yang gantiin ladang singkong mereka. Katanya, sekali tanam dan rawat dengan baik, dalam 3-4 tahun udah bisa mulai panen dan bertahan hingga 25 tahun ke depan. Gila sih, potensi jangka panjangnya bikin banyak orang tergiur.
Pertanian Kelapa Sawit Yang Sangat Luas
Pernah satu waktu aku ikut bantu temen dokumentasi proyek pertanian di Sumatera Selatan. Di sana aku ngobrol sama Bu Wati, seorang ibu dua anak yang baru buka lahan 1 hektar buat sawit. Dia bilang, salah satu kesalahannya di awal adalah asal beli bibit. Ternyata banyak bibit sawit palsu atau tidak bersertifikat yang dijual murah. Pas udah tanam setahun, ternyata pohonnya kerdil dan buahnya jarang. Kebayang dong, nyeseknya gimana.
Jadi, pelajaran penting banget: jangan asal beli bibit sawit. Pastikan beli dari sumber resmi atau koperasi yang bekerja sama dengan perusahaan sawit atau Dinas Pertanian. Soalnya bibit menentukan masa depan hasil panen kamu selama dua dekade.
Dari semua pengalaman yang aku temuin dan dengar langsung, aku ngerasa penting banget untuk nyorotin sisi manusiawi di balik ekspansi lahan sawit. Banyak petani bukan mau merusak lingkungan. Mereka cuma cari cara buat bertahan hidup dan kasih kehidupan yang lebih baik buat keluarga.
Belajar manajemen hasil panen
Oh ya, satu lagi yang jarang dibahas: diversifikasi. Jangan cuma bergantung pada sawit doang. Ada petani cerdas yang tetap tanam pisang atau jahe di sela-sela sawit muda. Selain tambahan penghasilan, juga bantu menjaga tanah nggak kosong saat sawit belum menghasilkan.
Aku pribadi masih punya mixed feeling soal perkembangan ini. Di satu sisi, aku senang lihat petani bisa hidup lebih layak. Tapi di sisi lain, aku juga ngerti pentingnya jaga lingkungan. Mungkin solusi terbaiknya adalah pertanian sawit berkelanjutan. Yang ramah lingkungan, punya skema replanting, dan nggak ngerusak hutan.